Sabtu, 14 Mei 2011

Mistik Santo Ignasius Antiokhia

MISTIK MENURUT AJARAN ROHANI
 SANTO IGNASIUS DARI ANTIOKHIA

  1. Riwayat Hidup Santo Ignasius
Informasi tentang kelahiran Ignasius tidak diketahui, tetapi kematiannya terjadi sekitar tahun 107. Ignasius pada awalnya bukan orang kristiani dan baru menjadi kristiani ketika ia berusia cukup tua. Setelah bertobat ia menjadi murid Santo Yohanes Penginjil kemudian menjadi uskup Antiokhia selama empat puluh tahun menggantikan Petrus.
Ketika ia menjabat sebagai uskup di Antiokhia, umat kristiani sering dipengaruhi oleh aliran sesat (Docetisme) dan kekuasaan Kaisar Romawi yang sewenang-wenang. Ignasius merupakan seorang uskup yang menjadi figur untuk diteladani oleh umat kristiani. Maka, Kaisar berusaha untuk menghukum mati Ignasius karena mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi pertumbuhan iman umat akan Yesus Kristus. Kaisar berpikir bahwa dengan menghukum mati Ignasius, maka ia dengan mudah menindas umat kristiani.
Ignasius akhirnya dihukum mati karena kesetiaan imannya akan Yesus Kristus pada masa pemerintahan Kaisar Trajanus (98-117). Ia dibawa ke Roma untuk diadili. Kaisar memutuskan agar ia dijadikan santapan binatang buas. Sebelum dihukum mati banyak umatnya yang berjuang agar ia dibebaskan. Tetapi ia menolak perjuangan mereka. Ia mengatakan, “Aku ini gandum Kristus yang harus digiling oleh geraham binatang buas menjadi roti murni”.[1] Dalam perjalanannya ke Roma, ia menulis tujuh buah surat kepada umat kristiani di Efesus, Magnesia, Tralles, Philadelphia, Smyrna, kepada Polycarpus uskup Smyrna, dan yang paling penting adalah kepada Gereja di Roma.
Surat-surat ini berisikan tentang kenangan akan hidup dan pekerjaannya, ucapan terima kasih kepada umat atas simpati yang diberikan kepadanya, juga nasihat agar umat tetap bersatu dengan Pemimpin Gereja dan menjauhkan diri dari berbagai macam aliran sesat, bersatu dalam iman dan kurban, dan nasihat untuk berani  menjadi martir.[2]
Ignasius sungguh-sungguh hidup bersatu dengan Yesus. Karena itu, ia tidak mau agar ia berpisah dengan Yesus sampai kapan pun. Karena imannya akan Yesus, ia mati sebagai martir. Persatuannya dengan Yesus Kristus merupakan sebuah ajaran tentang hidup mistik. Karena itu, kami memilih judul paper ini: Mistik Menurut Santo Ignasius dari Antiokhia. Tulisan ini mau membahas ajaran rohani Santo Ignasius dari Antiokhia tentang mistik.

2. Hidup Mistik menurut Ajaran Rohani St. Ignasius dari Antiokhia
Seperti yang terungkap di atas, St. Ignasius menulis surat kepada jemaatnya. Ada banyak hal penting yang ditekankannya agar diperhatikan sekaligus dipraktekan. Dari banyak hal penting itu salah satunya adalah soal hidup mistik. Dia menekankan ini tentu bukan tanpa alasan.  Hidup jemaatnya yang jauh dari persatuan dengan  Kristus  terungkap secara implisit dalam suratnya, seperti perpecahan dalam jemaat, ketakutan untuk menjadi martir Kristus (surat Roma), dan mengimani ajaran sesat (surat Efesus, Roma. Magnesia, Tralles).
Adapun gambaran  hidup mistik yang dianjurkan oleh St. Ignasius untuk dihayati jemaatnya adalah sebagai berikut:[3] Pertama, meniru Kristus. Dalam kehidupannya, Santo Ignasius selalu berupaya untuk meniru Kristus. Penghayatan yang sama sangat diinginkan Ignasius untuk dilakukan oleh jemaatnya. Ia menginginkan agar jemaatnya  mengenakan prinsip-prinsip dan keutamaan-keutamaan Kristus. Seperti Kristus telah meniru Bapa-Nya, kita pun diajak untuk meniru Kristus (surat Philadelphia 7:2). Kata meniru di sini bukan hanya berarti ketaatan pada hukum-hukum moral, bukan pula hidup yang tidak bertentangan dengan ajaran Kristus melainkan juga dengan menyelaraskan diri khususnya dengan sengsara dan kematian-Nya. Menyelaraskan diri dengan sengsara dan kematian Yesus Kristus adalah hal yang sangat diinginkan oleh Ignasius untuk dipraktekkan dalam jemaat. Konkretnya terungkap dalam tindakan kemartiran. Ini ditegaskannya dalam surat kepada jemaat di Roma di mana ia mengungkapkan pengalamannya bahwa lebih baik mati dan bertemu Yesus dari pada menjadi raja seluruh dunia (surat Roma 5:3-6). Dan baginya, dekat dengan pedang berarti dekat dengan Allah (surat Smyrna 4:2). Jelaslah bagi kita bahwa tindakan kemartiran membawa pada persatuan dengan Tuhan.
Kedua, menjadi kediaman Kristus. Santo Ignasius sungguh meyakini kehadiran Allah dalam hati umat beriman. Menurutnya, jiwa orang Kristen merupakan Bait Kristus. Karena itu, Dia mengajak umat beriman untuk membuka diri bagi Kristus dan membiarkan-Nya tinggal dalam diri kita. Ajakan ini terungkap dalam suratnya kepada Jemaat di Efesus, ”Marilah kita melakukan segala sesuatu dengan keyakinan bahwa Dia tinggal dalam kita.  Hal ini berarti kita menjadi bait-Nya dan Dia akan menjadi Allah kita. Ini adalah kebenaran...” (15:3).  
Ketiga, berada dalam Kristus. Menurut Ignasius, Kristus tidak hanya tinggal dalam diri kita, tetapi  kita juga berusaha untuk bersatu dalam Kristus. Bersatu dalam Kristus yang dimaksudkan oleh Ignasius lebih pada soal persatuan dalam komunio, ibadat, dan ketaatan yang berada dalam iman akan Kristus. Sebab bagi Ignasius persatuan dengan Kristus harus diungkapkan dalam persekutuan dengan jemaat. Seperti yang terungkap dalam suratnya kepada Jemaat di Magnesia, ”Saya berdoa agar di dalamnya ada persatuan berdasarkan tubuh dan roh Yesus Kristus yang merupakan kehidupan kekal bagi kita, persatuaan iman dan cinta tetapi terutama persatuaan dengan Yesus dan Bapa” (Magnesia 1:2).

3. Relevansi Ajaran Mistik Ignasius dari Antiokhia
            Pada bagian sebelumnya telah diuraikan ajaran rohani Ignasius tentang mistik. Pada hakekatnya mistik menurut Ignasius adalah persatuan yang utuh dengan Yesus Kristus. Persatuan ini ditandai dengan meniru Kristus, menjadi kediaman Kristus, dan berada dalam Kristus. Ajaran ini bertolak dari realitas kehidupan umat yang dihadapinya. Maka sangat tampak relevansi ajaran Ignatius bagi zamannya.
            Apakah ajaran mistik ini masih relevan bagi kristianitas dewasa ini? Untuk menjawab pertanyaan ini kita perlu melihat realitas kristianitas yang sering kita temukan dewasa ini.
            Pertama, meniru Kristus. Hal yang paling menonjol dalam hal ini yakni kemartiran. Kemartiran dalam hal ini tidak dipahami dalam arti tegas, yakni mati dibunuh, dibakar, atau pun dipenggal kepalanya demi mempertahankan iman seperti yang telah ditunjukkan oleh St. Ignatius sendiri. Kemartiran dewasa ini kita pahami sebagai sikap mempertahankan iman kita terhadap pengaruh-pengaruh yang memudarkan bahkan mencabut iman kita dan siap menerima konsekuensi apa saja demi iman kita. Realitas yang bisa kita katakan untuk hal ini yakni banyak orang yang meninggalkan iman kekatolikannya dan memeluk agama lain (misalnya Kristen Protestan, Islam, dan agama-agama yang lain). Banyak hal yang menjadi alasan mengapa terjadi perpindahan ini. Namun yang paling krusial dan mendasar yakni persoalan iman. Banyak orang Kristen yang tidak tegas dan teguh dalam imannya hingga kehilangan imannya. Maka dengan sangat mudah bagi orang-orang dari agama lain mempengaruhi mereka. Nilai kemartiran jelas hilang dari kehidupan mereka. Hal lain yang juga bisa kita katakan dari kehidupan kita sehari-hari yakni lemahnya semangat pengorbanan. Banyak orang takut untuk berkorban bagi orang lain.
            Kedua, menjadi kediaman Kristus. Hal penting yang bisa kita katakan berkaitan dengan ini yakni kemurnian tubuh sebagai bait suci tempat kediaman Kristus. Realitas yang tampak dewasa ini yakni orang tidak menghargai tubuhnya sendiri sebagai bait suci. Orang sering mencemari tubuhnya dengan tindakan-tindakan amoral dan hawa nafsu. Perkembangan dunia yang semakin pesat juga membuat orang semakin jauh dari Kristus. Orang hanya terbuka pada tawaran-tawaran dunia ketimbang terbuka kepada Kristus.
 Ketiga, berada dalam Kristus. Hal penting yang berkaitan dengan ini yang sangat ditekankan oleh Ignasius yakni persatuan dalam jemaat yang terungkap dalam ibadat. Dewasa ini realitas persatuan yang ditekankan oleh Ignasius masih jauh dari harapan. Hal konkret yang bisa kita katakan yakni kurang adanya persatuan antara imam dan umatnya. Banyak kali kita menyaksikan konflik antara imam dan umatnya yang berujung pada perpecahan dalam Gereja.
Ketiga realitas yang telah dikemukakan di atas menunjukkan bahwa ajaran mistik Ignasius masih sangat relevan bagi kehidupan kristianitas dewasa ini. Di tengah dunia yang semakin berubah, kita dituntut untuk menyikapinya secara kritis dengan terus memperhatikan relasi kita dengan Allah yang kita imani. Kita harus menjadikan Kristus sebagai teladan, dan menyediakan diri kita sebagai Bait Suci bagi-Nya, dan selalu bersatu dengan-Nya dalam Gereja.



Daftar Pustaka


Komisi Liturgi KWI. Anggota Keluarga Allah. Yogyakarta: Kanisius, 1974.

Quasters, Johanes. Patrology Vol I-The Beginings of Patristics Literature Friom the Apostles Creed to Irenaeus. Christian Clasic, Inc. Westminster: Maryland, 1992.




[1] Komisi Liturgi KWI. Anggota Keluarga Allah. Yogyakarta: Kanisius, 1974, hlm. 45.

[2] Johanes Quasters. Patrology Vol I-The Beginings of Patristics Literature From the Apostles Creed to Irenaeus. Christian Clasic, Inc. Westminster, Maryland: 1992, hlm. 64.

[3] Ibid., hal. 70-72.

Kehadiran Kristus Dalam Ekaristi


Kehadiran Kristus Dalam Ekaristi
(Tinjauan Berdasarkan Sacrosanctum Concilium No. 7)

1.    Pengantar
            Berbicara tentang Ekaristi, tidak bisa terlepas dari berbicara tentang kehadiran Kristus di dalamnya. Karena dalam perayaan Ekaristi kita mengenang kembali wafat dan kebangkitan Tuhan Yesus yang menyelamatkan umat manusia. Dalam paper ini, penulis akan mengulas tentang kehadiran Kristus dalam perayaan Ekaristi berdasarkan dokumen Sacrosanctum Conciliium[1] nomor 7. Paper ini terdiri dari pengantar singkat, sekilas pemahaman tentang Ekaristi, kehadiran Kristus dalam Ekaristi, dan kesimpulan.
2. Sekitar Sejarah dan Teologi Ekaristi[2]
            Secara etimologis kata Ekaristi berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata eucharistia yang artinya puji syukur. Dari arti etimologis ini nampak jelas bahwa inti pokok perayaan Ekaristi adalah puji syukur Gereja kepada Allah yang telah mengutus Putera-Nya untuk menebus dosa umat manusia sekaligus puji syukur Gereja bersama Kristus dalam penyerahan-Nya kepada Bapa. Gereja merayakan Ekaristi untuk mengenang wafat dan kebangkitan Kristus. Gereja merayakan Ekaristi bukan karena keinginan Paus, Uskup, atau para Imam, tetapi karena memang diperintahkan oleh Tuhan Yesus pada perjamuan malam terakhir (Mat 26:26-29; Mrk 14:22-25; Luk 22:14-20). Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa Ekaristi ditetapkan oleh Tuhan Yesus pada perjamuan malam terakhir bersama para murid-Nya. Tetapi, perjamuan malam terakhir bukanlah perayaan Ekaristi pertama yang dilakukan oleh Gereja, karena pada dasarnya Ekaristi itu merayakan wafat dan kebangkitan Tuhan Yesus. Pada perjamuan malam terakhir, Yesus belum wafat dan bangkit.
Pada beberapa abad awali, bentuk dasar perayaan Ekaristi terdiri dari Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Dan baru pada abad IV-VI ditambahkan beberapa ritus sehingga memperoleh bentuknya yang lengkap dalam Misa Trente kemudian diperbaharui lagi dalam Missale Romanum 1970 dan akhirnya lahirlah Tata Perayaan Ekaristi baru yang kita kenal sekarang. Pada abad III, bahasa Latin mulai digunakan dalam liturgi Gereja Barat; dan pada abad IV Paus Damasus memberlakukan bahasa Latin sebagai bahasa resmi dalam liturgi. Pada Konsili Vatikan II penggunaan bahasa pribumi diperkenankan dalam liturgi Gereja. Hakikat perayaan Ekaristi adalah perayaan komunal (bersama). Lalu apakah imam yang merayakan Ekaristi sendirian dipandang sah? Ekaristi jelas bersifat komunal, tetapi juga bersifat personal. Hanya saja, dalam hal ini personal tidak sama dengan individual. Orang secara pribadi menyerahkan diri bersama Kristus, tetapi dalam kesatuan dengan orang beriman yang lain. Kalau seorang imam merayakan Ekaristi sendirian, itu memang sah tetapi tidak sangat baik. Imam diangkat menjadi pemimpin umat. Karena itu, kalau dia merayakan Ekaristi hendaknya sedapat mungkin bersama dengan umat.[3]
3. Kehadiran Kristus dalam Perayaan Ekaristi
Dalam dokumen Sacrosanctum Concilium (SC) nomor 7 dikatakan, “Ia (Kristus) hadir dalam Korban Misa, baik dalam pribadi pelayan, karena yang sekarang mempersembahkan diri melalui pelayanan imam sama saja dengan Dia yang ketika itu mengorbankan diri di kayu salib, maupun terutama dalam (kedua) rupa Ekaristi. Dengan kekuatan-Nya Ia hadir dalam sakramen-sakramen sedemikian rupa, sehingga bila ada orang yang membaptis, Kristus sendirilah yang membaptis. Ia hadir dalam sabda-Nya, sebab Ia sendiri bersabda bila Kitab Suci dibacakan dalam Gereja. Akhirnya Ia hadir sementara Gereja memohon dan bermazmur, karena Ia sendiri berjanji: Bila dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situlah Aku berada di tengah mereka (Mat 18:20). Pernyataan Sacrasanctum Concilium di atas dapat diringkas sebagai berikut: Kristus hadir dalam Ekaristi melalui imam/uskup yang memimpin Ekaristi, umat yang hadir merayakan Ekaristi, Sabda Allah yang dibacakan, serta dalam rupa roti dan anggur.
3.1. Imam/Uskup Yang Memimpin Ekaristi
            Pada dasarnya yang merayakan Ekaristi adalah umat termasuk imam/uskup. Imam adalah wakil dari umat yang oleh karena menerima tahbisan suci menjadi pembicara dengan Allah dalam perayaan Ekaristi. Dalam Gereja katolik, hanya orang yang tertahbis yang mempunyai kuasa untuk memimpin perayaan Ekaristi. Dan kepemimpinan dalam merayakan Ekaristi bukan kuasa atau fungsi yang dimiliki sendiri, melainkan aspek liturgis dari tugas kepemimpinan umum.[4]
Dalam buku Pedoman Umum Misale Romawi nomor 33 dikatakan, “Sebagai pemimpin, imam/uskup melambungkan doa-doa atas nama Gereja dan jemaat yang berhimpun. Tetapi kadang-kadang ia berdoa juga untuk dirinya sendiri supaya dapat melaksanakan tugasnya dengan hikmat dan penuh perhatian. Doa-doa pribadi semacam itu yakni doa sebelum pemakluman Injil, doa persiapan persembahan, dan doa sebelum dan sesudah komuni imam, dia ucapkan dalam hati.[5] Di sini imam mengetuai umat yang berhimpun, memimpin mereka dalam doa, mewartakan kabar keselamatan, dan mengajak mereka agar bersama dengannya mempersembahkan kurban kepada Allah dengan perantaraan Kristus dalam Roh Kudus. Namun fungsi kepemimpinan seorang imam menjangkau lebih jauh. Dia jauh lebih daripada sekedar pemimpin upacara/perayaan ataupun pengucap doa. Dia adalah wakil Kristus yang demi kita melaksanakan fungsi imamatnya dalam liturgi melalui tindakan Roh Kudus. Melalui pelayanan Sabda, imam menjadi pelayan iman yang membawa manusia kepada Kristus. Dan imam melaksanakan fungsi imamatnya demi jemaat dalam perayaan sakramen-sakramen.[6]
3.2. Umat yang hadir[7]
            Seturut hakikatnya, Ekaristi merupakan perayaan jemaat. Oleh karena itu, sangat pentinglah dialog antara pemimpin dan umat yang berhimpun, begitu juga aklamasi-aklamasi sangat besar artinya. Semua itu bukan hanya tanda lahiriah perayaan bersama, melainkan juga sarana untuk membina dan memperdalam kesatuan antara imam dan umat. Aklamasi dan jawaban-jawaban umat terhadap salam dan doa-doa imam menciptakan tingkat pastisipasi aktif yang harus ditunjukkan jemaat dalam setiap bentuk misa.
            Umat beriman yang merayakan misa merupakan umat kudus, umat yang dipilih Allah dan dianugerahi martabat imam dan raja. Mereka berkumpul untuk mengucap syukur dan mempersembahkan kurban murni kepada Allah tidak hanya dengan perantaraan tangan imam, melainkan juga bersama dengan imam; mereka pun belajar mempersembahkan diri. Hendaknya mereka berusaha untuk menyatakan hal itu baik dalam sikap takwa yang mendalam, maupun dalam tindakan cinta kasih terhadap saudara-saudara yang mengikuti perayaan yang sama. Oleh karena itu, mereka hendaknya menjauhkan segala sikap mementingkan diri sendiri dan perpecahan. Mereka harus sadar bahwa mereka semua mempunyai satu Bapa di surga, sehingga seluruh umat itu bersaudara satu sama lain.
            Hendaknya mereka merupakan satu tubuh dalam mendengarkan Sabda Allah maupun dalam berdoa dan bernyanyi. Terutama mereka harus satu tubuh dalam mempersembahkan kurban dan dalam menyambut hidangan dari meja Tuhan. Kesatuan itu tampil indah, baik bila semua mengambil sikap tubuh yang sama, maupun bila mereka melaksanakan tata gerak yang sama. Hendaknya umat beriman dengan senang hati melayani umat Allah untuk melakukan pelayanan atau tugas khusus dalam perayaan. Dalam arti rohani, umat yang berhimpun dalam merayakan Ekaristi melambangkan kehadiran Kritus. Hal ini sangat jelas melalui sabda-Nya, “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Yesus hadir dalam dan melalui umat yang berkumpul.
3.3. Sabda Allah yang dibacakan
            Sabda Allah yang dibacakan dalam perayaan Ekaristi adalah tanda kehadiran Allah juga karena Sabda itu adalah Sabda Allah sendiri. Allah hadir dalam perayaan Ekaristi melalui Sabda-Nya yang menyapa umat beriman. Settiap kali Sabda Allah diwartakan, Kristus hadir di tengah umat-Nya “dalam sabdaNya”, dalam tanda yang paling rohani dari segala tanda yang digunakan dalam liturgi.[8] Karena itu, dalam perayaan Ekaristi wajib membacakan  Kitab Suci. Karena liturgi pada hakikatnya suatu perayaan yang sepenuhnya bersumber pada Sabda Allah.[9] Patut disadari bahwa Sabda Allah itu sering kali sulit dimengerti oleh umat beriman. Karena itu, Sabda Allah yang dibacakan menjadi sangat jelas maknanya melalui khotbah atau homili yang disampaikan oleh pemimpin Ekaristi. Untuk misa hari Minggu dan hari-hari Raya diwajibkan memberi khotbah/homili sesuai dengan latar belakang dan konteks sosial umat.
3.4. Roti dan Anggur
Latar belakang penggunaan roti dan anggur dalam Ekaristi diambil dari kebudayaan masyarakat Timur Tengah Purba. Roti dan anggur merupakan makanan dan minuman pokok masyarakat Timur Tengah Purba. Pada perjamuan malam terakhir Tuhan Yesus menggunakan roti dan anggur sebagai makanan dan minuman. Jadi, penggunaan roti dan anggur dalam liturgi Kristiani, memang sudah menjadi baku karena berkaitan dengan penetapan Ekaristi oleh Tuhan sendiri.[10] Memang perjamuan malam terakhir bukanlah perayaan Ekaristi, sebab perayaan Ekaristi merupakan perayaan kenangan akan wafat dan kebangkitan Tuhan Yesus. Pada saat perjamuan terakhir Yesus masih hidup dan belum menderita sengsara. Selain sebagai makanan dan minuman jasmani, roti dan anggur juga diberi makna rohani, yaitu mengungkapkan karunia hidup ilahi. Roti dan anggur yang menjadi unsur pokok bagi kehidupan manusia dijadikan simbol yang menjamin kehidupan ilahi.[11]
Roti dan anggur merupakan lambang kehadiran Kristus dalam perayaan Ekaristi. Roti itu adalah tubuh Kristus sendiri yang memberi kekuatan bagi orang yang percaya kepada-Nya. Tuhan Yesus sendiri bersaksi, “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia" (Yoh 6:51). Dan pada perjamuan malam terakhir, Yesus  mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku” (Mat 26:26). Tindakan Yesus ini mau mengatakan kepada kita bahwa roti itu yang adalah Tubuh-Nya sendiri sekaligus menjadi makanan yang menjamin kehidupan ilahi. Dan barang siapa yang makan roti itu ia akan tinggal di dalam Kristus dan Kristus tinggal di dalam orang tersebut. Makan roti berarti bersatu dengan Kristus.[12]
            Selain roti, anggur juga merupakan simbol kehidupan karena memberi semangat hidup dan memuaskan dahaga. Dalam perjanjian baru, Yesus menyebut dirinya sebagai pohon anggur yang mampu memberikan kehidupan bahagia bagi orang yang percaya kepada-Nya. Ayat-ayat Kitab Suci mengatakan bahwa anggur adalah darah Kristus sendiri. Hal ini secara jelas kita pahami melalui kata-kata Yesus pada perjamuan malam terakhir Yesus, “Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: "Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa” (Mat 26-27-28).
            Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa roti dan anggur merupakan lambang tubuh dan darah Kristus sendiri. Ia mengatakan, “Daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku benar-benar minuman” (Yoh 6:55). Tubuh dan Darah Kristus yang kita santap merupakan jaminan kehidupan kekal, kebangkitan pada akhir zaman, dan persatuan dengan Kristus. Yesus mengatakan, “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman” (Yoh 6:54). “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia” (Yoh 6:56). Dalam roti dan anggur yang telah dikonsekrasi, Yesus sungguh-sungguh hadir. Kehadiran-Nya sangat nyata (real presence). Dengan kata lain, roti dan anggur yang telah dikonsekrasi sungguh-sungguh berubah menjadi tubuh dan darah Kristus sendiri.
            Seturut teladan Kristus, Gereja selalu menggunakan roti dan anggur untuk merayakan perjamuan Tuhan. Sesuai dengan tradisi seluruh Gereja, roti yang digunakan untuk perayaan Ekaristi harus dibuat dari gandum murni-tak beragi dan masih baru. Kebiasaan memakai roti tak beragi diketahui mulai sejak abad IX. Tidak seluruhnya jelas mengapa dibuat begitu, barangkali karena perjamuan Paska juga dirayakan dengan roti tak beragi.[13] Dalam perayaan Ekaristi, anggur harus alamiah dari buah anggur yang masih segar tanpa dicampur dengan bahan lain. Anggur yang akan diminum dicampuri sedikit dengan air. Alasannya supaya tidak terlalu “keras”, tidak terlalu tinggi kadar alkoholnya. Sekarang anggur sudah dibuat tidak keras. Jadi, pencampuran itu hanya mempunyai arti simbolis saja, lambang dari kemanusiaan dank ke-Alla-an Kristus yang terpadu.[14] menggunakan selain dari roti gandum tak beragi dan anggur murni, perayaan ekaristi itu tidak sah. Kesatuan fisik dengan Kristus dalam rupa roti dan anggur tidak menjamin keselamatan. Hanya sebagai ungkapan iman, Ekaristi mempunyai arti.[15] Transubstansi (perubahan roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus) mencapai puncaknya dalam Doa Syukur Agung. Konsekrasi terjadi karena kuasa Roh Kudus. Misalnya dalam Doa Syukur Agung I dikatakan: “Allah, semoga Roh-Mu menyucikan persembahan ini agar menjadi bagi kami tubuh dan darah putera-Mu terkasih, Tuhan kami Yesus Kristus.”
4.   Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Kristus sungguh-sungguh hadir dalam perayaan Ekaristi melalui pemimpin Ekaristi, umat yang berhimpun, Kitab Suci yang dibacakan, serta dalam rupa roti dan anggur. Itu berarti bahwa kehadiran Kristus dalam Ekaristi merupakan suatu kehadiran dalam bentuk simbol. Jadi, pemimpin Ekaristi, umat yang berhimpun, Kitab Suci yang dibacakan, serta roti dan anggur merupakan tanda kehadiran Kristus. Karena Kristus sungguh-sungguh hadir, maka umat hendaknya mengikuti perayaan tersebut dengan penuh hormat dan iman.


Daftar Pustaka

Banawiratma, JB (ed.), Ekaristi dan Kerja Sama Imam-Awam,Yogyakarta: Kanisius, 1986.

Crichton, JD., Perayaan Ekaristi, terj. Komisis Liturgi KWI, Yogyakarta: Kanisius, 1987.

Hayon, Nikolaus, Ekaristi Perayaan Keselamatan dalam Bentuk Tanda, Ende: Nusa Indah, 1986.

Jacobs, Tom,  Misteri Perayaan Ekaristi: Umat Bertanya Tom Jacobs Menjawab, Yogyakarta: Kanisius, 1996.

Komisis Liturgi KWI, Pedoman Umum Misale Romawi, Ende: Nusa Indah, 2002.

Martasudjita, E., Pr, Pengantar Liturgi-Makna, Sejarah, dan Teologi liturgi, Yogyakarta: Kanisius, 1999.

______________., Tentang Ekaristi, Yogyakarta: Kanisius, 2008.

Pareira, Berthold Anton, Peranan Kitab Suci Dalam Liturgi, Yogyakarta: Kanisius, 1991.

Sacrosanctum Concilium (Konsili Suci), Seri Dokumen Gerejani No. 9,  terj. R. Hardawiryana, Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, 1990.




[1] Sacrosanctum Concilium(SC)  merupakan salah satu dokumen Konsili Vatikan II yang secara khusus berbicara tentang Liturgi Suci. Dokumen ini telah dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia. Lihat Sacrosanctum Concilium (Konsili Suci), Seri Dokumen Gerejani No. 9,  terj. R. Hardawiryana, SJ, Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, 1990. Untuk selanjutnya hanya ditulis SC disusul dengan nomor yang dikutip.
[2] Uraian ini disarikan dari buku karya E. Martasudjita, Pr., Tentang Ekaristi, Yogyakarta: Kanisius, 2008, hlm. 4-5.
[3] Tom Jacobs, Misteri Perayaan Ekaristi: Umat Bertanya Tom Jacobs Menjawab, Yogyakarta: Kanisius, 1996, hlm. 57-57.
[4] Tom Jacobs, “Refleksi Teologis Tentang Ekaristi”, dalam JB. Banawiratma, SJ., Ekaristi dan Kerja Sama Imam-Awam, Yogyakarta: Kanisius, 1986, hlm. 46.
[5] Komisis Liturgi KWI, Pedoman Umum Misale Romawi, Ende: Nusa Indah, 2002, hlm. 36. Untuk selanjutnya hanya ditulis PUMR disusul dengan nomor yang dikutip. Misalnya PUMR 33.
[6] JD. Crichton, Perayaan Ekaristi, terj. Komisi Liturgi KWI, Yogyakarta: Kanisius, 1987, hlm. 55-56.
[7] Uraian ini disarikan dari PUMR 34-35; 95-97. Bdk. juga dengan SC 30.
[8] Berthold Anton Pareira, O.Carm., Peranan Kitab Suci Dalam Liturgi, Yogyakarta: Kanisius, 1991, hlm. 14.
[9] Ibid., hlm. 17.
[10] E.Martasudjita, Pr, Pengantar Liturgi-Makna, Sejarah, dan Teologi Liturgi, Yogyakarta: Kanisius, 1999, hlm, 118.
[11] Ibid., hlm. 117. Bdk. Dr. Nikolaus Hayon, SVD, Ekaristi Perayaan Keselamatan Dalam Bentuk Tanda, Ende: Nusa Indah, 1986, hlm.  87.
[12] Dr. Nikolaus Hayon, SVD, Ibid.
[13] Tom Jacobs Menjawab, Op. Cit., hlm. 75.
[14] Ibid., hlm. 76.
[15] Tom Jacobs, “Refleksi Teologis Tentang Liturgi”, dalam JB. Banawiratma (ed.), Ekaristi dan Kerja Sama Imam-Awam,Yogyakarta: Kanisius, 1986, hlm. 43.

Tata Gerak Liturgis


Tata Gerak Manusia
Sebagai Simbol Liturgi

Oleh: Rikardus Nsalu

1. Pengantar
            Dalam liturgi Gereja katolik selalu menggunakan simbol-simbol. Aneka simbol tersebut dirangkai dan sajikan sedemikian rupa sehingga umat bisa mengalami kehadiran Allah dalam berliturgi. Simbol yang digunakan dalam liturgi berupa barang/benda dan tata gerak umat yang berkumpul dalam merayakan liturgi. Melalui dan dalam simbol-simbol itu tersembunyi dan terungkap apa yang disimbolkan, yaitu realitas kehadiran Kristus yang menyelamatkan.[1] Simbol-simbol dalam liturgi Gereja katolik membantu umat dalam memahami misteri keselamatan sekaligus merupakan ungkapan iman umat yang merayakan liturgi. Oleh karena itu, simbol-simbol dalam liturgi menjadi sangat penting karena melalui simbol-simbol tersebut misteri Kristus ditampilkan dan dinyatakan kepada manusia. Simbol-simbol itu membantu umat untuk berjumpa dengan Allah. Simbol dalam liturgi Gereja katolik meliputi dua bentuk, yaitu tata gerak manusia dan benda/barang. Akan tetapi dalam paper ini penulis hanya menguraikan tata gerak manusia sebagai simbol liturgi. Itu berarti bahwa kehadiran umat dalam berliturgi sudah merupakan suatu simbol. Gerak perjumpaan orang-orang yang berkumpul dari berbagai kelompok, suku, tingkatan/status sosial, dan keluarga mengungkapkan tindakan Allah yang mempersatukan semua orang.[2]  Tulisan ini terdiri dari pengantar, mengenal dan memahami tata gerak manusia sebagai simbol liturgi, dan kesimpulan.
2. Mengenal dan Memahami Tata Gerak Manusia Sebagai
Simbol Liturgi
2.1. Berjalan
            Secara liturgis berjalan mengungkapkan hakikat umat Allah yang sedang berziarah dan bergerak menuju tanah air surgawi/tanah air sejati. Dalam liturgi berjalan selalu teratur dengan badan dan kepala tegak, tenang dan agung. Tindakan berjalan dalam perayaan liturgi biasanya dilakukan secara bersama-sama dalam suatu prosesi, misalnya perarakan masuk dan keluar gereja, perarakan persembahan, perarakan maju untuk menyambut komuni kudus, dan prosesi lainnya dalam perayaan liturgi. Prosesi itu menampilkan dimensi kebersamaan umat Allah yang sedang berziarah.[3] Berjalan juga bisa dipahami sebagai ungkapan kesiapsediaan kita untuk secara aktif menyambut dan menanggapi tawaran kasih karunia Allah yang selalu ada di depan kita.[4] Oleh karena itu, secara liturgis berjalan itu selalu bergerak maju bukan bergerak mundur atau menyamping.
2.2. Berdiri
            Berdiri merupakan sikap liturgi yang utama. Sikap ini diadopsi dari liturgi tradisi Yahudi (bdk. Mark 11:25; Luk 18:13; Kej 19:27; I Sam 1:26, I Raj 3:15). Berdiri merupakan ungkapan penghormatan kepada orang yang patut dihormati. Karena itu, umat hendaknya berdiri ketika pemimpin ibadat/perayaan ekaristi memasuki dan meninggalkan tempat ibadat. Dalam perayaan ekaristi/ibadat, umat berdiri ketika imam mendoakan doa pembuka, mendaraskan/menyanyikan Kemuliaan kepada Allah Tri Tunggal, mendengarkan Injil, mendaraskan doa Aku Percaya, doa umat, Prefasi dan Kudus, doa Bapa Kami, dan ketika imam mengucapkan doa sesudah komuni sebagai tanda syukur.
2.3. Duduk
            Duduk merupakan sikap tenang untuk mendengarkan sesuatu atau untuk menanti sesuatu ataupun untuk beristirahat. Dalam liturgi, sikap duduk melambangkan kesiapsediaan untuk mendengarkan Sabda Tuhan.[5] Bagi pemimpin ibadat resmi (uskup dan imam) sikap duduk tidak hanya mengungkapkan kesiapsediaan untuk mendengarkan Sabda Tuhan, tetapi juga mengungkapkan martabatnya sebagai seorang pemimpin dan pengajar atas nama Kristus. Dalam misa/ibadat, umat duduk ketika Kitab Suci dibacakan (selain Injil), pemimpin liturgi berkhotbah/homili/memberikan renungan, persiapan persembahan, dan petugas membacakan pengumuman.
2.4. Berlutut dan membungkuk
            Berlutut dan membungkuk merupakan dua hal yang berbeda tetapi keduanya mempunyai makna yang sama yaitu sikap merendahkan diri, menyadari kekecilan, dan kekerdilan di hadapan Tuhan. Berlutut dan membungkuk juga mau mengungkapan penghormatan, rasa segan, dan kerendahan hati kepada Allah dan pemimpin ibadat. Selain itu, sikap berlutut dan membungkuk mau mengungkapkan rasa pertobatan yang mendalam. Berlutut juga merupakan sikap tubuh pada saat doa pribadi: orang berlutut agar dapat bermeditasi dengan baik.[6] Dalam perayaan ekaristi umat berlutut ketika mengucapkan doa tobat, imam mendoakan kisah institusi (kisah perjamuan Tuhan) dalam Doa Syukur Agung, dan mempersiapkan diri sebelum menerima komuni suci. Menurut sejarah liturgi dan kulturnya sikap membungkuk lebih tua dibandingkandengan gerakan berlutut.[7] Dalam perayaan ekaristi/ibadat, umat membungkuk ketika mengucapkan: “Ia dikadung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria dan menjadi manusia” (syahadat Necea Konstantinopel) atau “Yang dikandung dari Roh kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria” (Syahadat Para Rasul), sebagai tanda ungkapan iman. Apabila tidak memungkinkan untuk berlutut maka umat hendaknya berdiri.
2.5. Meniarap
            Meniarap adalah kelanjutan tindakan berlutut dan membungkuk. Secara liturgis meniarap merupakan ungkapan penghormatan dan perendahan diri yang paling mendalam. Yang mau diungkapkan adalah kerendahan hati, kekecilan diri, dan penghormatan kepada Allah secara mendalam. Tindakan liturgi meniarap juga digunakan untuk menyampaikan suatu doa permohonan yang amat penting dan biasanya hanya dilakukan oleh orang-orang tertentu sebagaimana dilakukan dalam liturgi tahbisan dan kaul kekal. Karena itu, meniarap  tidak pernah dilakukan oleh seluruh jemaat.
2.6. Tangan terkatup, terangkat, dan terentang[8]
            Dalam liturgi ketiga gerakan tangan ini mengungkapkan seluruh tindakan manusia. Hal ini berkaitan dengan kenyataan bahwa tangan merupakan alat utama bahasa tubuh. Gerakan tangan terkatup melambangkan perjumpaan antara Allah dengan manusia, sikap hormat, permohonan dan penyerahan diri manusia kepada Allah. Dalam perayaan ekaristi umat mengatupkan tangan di dada ketika akan menerima komuni yang melambangkan kesetiaan kepada Tuhan. Tangan terangkat dan terentang mengungkapkan ketakberdayaan kita, kekosongan dan kemiskinan diri kita. Sikap angkat tangan juga merupakan tanda menyerah, yakni penyerahan diri kepada Allah. Pada umumnya gerakan liturgis tangan terangkat dan terentang dilakukan oleh pemimpin liturgi.
2.7. Penumpangan tangan
Penumpangan tangan memiliki makna khusus dan mendalam dalam liturgi. Dalam Kitab Suci penumpangan tangan memiliki makna pengalihan/pelimpahan kepemilikan (Mzm 139:5), kesalahan (Im 16:21), tangggung jawab (Im 24:14), dan kuasa roh (Bil 27:18-23). Selain itu, penumpangan tangan juga melambangkan permohonan dan penganugerahan berkat (Kej 48:14-20). Dalam perjanjian baru penumpangan tangan menjadi ritus sakramental untuk pelimpahan/penganugerahan Roh Kudus (Kis 8:17) dan untuk pelimpahan wewenang atau kuasa (tahbiasan: Kis 6:6;13:3).[9] Jadi, dalam liturgi Gereja katolik penumpangan tangan dimaknai sebagai bentuk permohonan, pencurahan Roh Kudus, berkat, dan pelimpahan kuasa/wewenang kepemimpinan untuk tugas menggembalakan, mengajar dan menuduskan (khususnya dalam liturgi tahbisan).
2.8. Tanda salib dan berkat
Tanda salib merupakan gerakan satu tangan untuk membuat tanda salib pada diri sendiri ataupun untuk memberikan berrkat bagi orang lain. Pemberian berkat selalu dilakukan oleh seseorang (imam atau uskup) kepada seseorang atau sekelompok orang. Menurut tradisi liturgi tanda salib pertama-tama mengungkapkan dasar iman kristiani akan salib Kristus yang membawa penebusan dan keselamatan.[10] Dengan kata lain, tanda salib mau mengungkapkan bahwa kuasa salib Kristus mampu mengalahkan kuasa jahat dan setan. Dalam perayaan ekaristi/ibadat tanda salib dibuat ketika memasuki gereja sambil menandai diri dengan air suci yang ada di samping pintu masuk gereja, mengawali dan mengakiri perayaan ekaristi, menerima percikan air suci kalau dibuat sebagai pengganti pernyataan tobat, memulai bacaan Injil dengan membuat tanda salib pada dahi, mulut dan dada untuk mengungkapkan hasrat agar budi diterangi, mulut disanggupkan untuk mewartakan, dan hati diresapi oleh Sabda Tuhan.[11]
2.9. Menepuk dada
Menepuk dada merupakan simbol penyesalan diri dan pengakuan bahwa dirinya bersalah/berdosa seraya memohon pengampunan dari Allah. Menepuk dada juga merupakan simbol kerendahan hati di hadapan Tuhan. Hati adalah sumber dan tempat dosa berdiam, maka menepuk dada (letak hati) merupakan ekspresi lahiriah dari kesadaran akan diri yang berdosa.[12] Dalam perayaan ekaristi, menepuk dada dilakukan ketika mengucapkan kata-kata: “……saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa……” pada pernyataan tobat doa Saya Mengaku (ritus pembuka) sebagai tanda tobat dan penyesalan.
2.10. Ciuman dan Jabatan tangan
            Dalam budaya masyarakat tertentu ciuman merupakan simbol liturgi yang menunjukkan sikap penghormatan dan ikatan kasih persaudaraan yang erat dan mesra. Hal ini sudah dimulai dalam liturgi kekristenan awali. Ciuman juga dilakukan oleh pemimpin litrugi (diakon, imam, uskup), yaitu mencium altar pada awal dan akhir perayaan ekaristi/ibadat. Akhir-akhir ini ciuman (mencium pipi) bisa diganti dengan jabatan tangan walaupun masih banyak yang saling mencium sebagai tanda persaudaraan.
2.11. Pembasuhan tangan
            Dalam liturgi, pembasuhan tangan merupakan simbol pembersihan diri dari dosa. Hal ini dilatarbelakangi oleh pandangan kuno yang mengatakan bahwa dosa datang melalui sentuhan tangan. Oleh karena itu, tangan manusia harus dibersihkan setelah menyentuh sesuatu.

3. Kesimpulan
            Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa gerakan manusia merupakan suatu simbol liturgi. Karena itu,  kehadiran manusia dalam berliturgi merupakan suatu simbol yang memberikan warna khusus dalam liturgi Gereja Katolik. Kiranya melalui tulisan ini bisa membantu umat beriman untuk semakin menyadari bahwa tata gerak dalam berliturgi sangat membantu untuk bersatu dengan Allah. Karena simbol-simbol dalam liturgi mampu menghadirkan misteri Kristus yang menyelamatkan umat manusia.


Daftar Pustaka
Martasudjita, E., Memahami Simbol-Simbol Dalam Liturgi, Yogyakarta: Kanisius, 1998.

Martimort, A. G., Liturgi: Gereja Merayakan Yesus Kristus-Suatu Pengantar Liturgi, Jogyakarta: Komisi Liturgi KWI, 1990.

Pasi, Gregorius, Pelajaran Liturgi Untuk Postulan & Novis SMM (diktat), Ruteng: Novisiat Montfortan, 2008. 

Suryanugraha, Simbol Liturgik: Benda, Aksi dan Ekspresi, dalam MelintasNo. 43 April 1998.



[1] E. Martasudjita, Memahami Simbol-Simbol Dalam Liturgi, Yogyakarta: Kanisius, 1998, hlm. 11.
[2] Ibid., hlm. 14.
[3] Bdk. E. Martasudjita, hlm. 19.
[4] E. Martasudjita, hlm. 19-20.
[5] E. Martasudjita, hlm. 21.
[6] A. G. Martimort, Liturgi: Gereja Merayakan Yesus Kristus-Suatu Pengantar Liturgi, Jogyakarta: Komisi Liturgi KWI, 1990, hlm. 111.
[7] Bdk. E. Martasudjita, hlm. 22-23.
[8] Bdk. E. Martasudjita, hlm. 24.
[9] E. Martasudjita, hlm. 26.
[10] Ibid.,
[11] Gregorius Pasi, SMM, Pelajaran Liturgi Untuk Postulan & Novis SMM (diktata), Ruteng: Novisiat Montfortan, 2008, hlm. 20. 
[12] Suryanugraha, Simbol Liturgik: Benda, Aksi dan Ekspresi, dalam MelintasNo. 43 April 1998, hlm. 14.